Tentang Riyadh

2 Oktober 2013 besok, Nabila dan bundanya terhitung satu tahun menginjakkan kaki di ibukota Saudi ini. Kali ini saya akan bercerita tentang Riyadh sesuai yang pernah dialami selama tinggal disini.

Empat bulan pertama

Kala itu kami tinggal di area izdihar, terkenal juga dengan area exit 7. Exit merupakan pintu keluar ring road (high way). Semua diberi nomor untuk memudahkan pengguna jalan keluar sesuai area yang dituju.

Apartemen kami kala itu terletak dekat dengan supermarket Panda, hypermarket Carrefour Granada, universitas Jamiyatul Imam, sekolah aliah Rowadh, sekolah international manarat. Di area ini juga terdapat baqolah (warung) Indonesia dan warung makan Indonesia Sumedang. Warga dari Indonesia maupun malaysia lumayan banyak menghuni area ini. Beberapa teman yang tinggal ada yang bekerja di dunia telekomunikasi, ada yang bekerja sebagai dosen universitas, ada juga mahasiswa jamiyah (universitas).

Bangunan apartemen dan rumah pun tergolong baru dan modern. Harga sewa apartemen mulai dari 26000 riyal pertahun dengan tipe 2 kamar, 1 ruang keluarga, 1 dapur, 1 kmr mandi keluarga, 1 kmr mandi tamu, 1 ruang tamu/majlis. Disini, kalau pandai menawar, sewa apartemen bahkan rumah bisa lebih murah dan juga bisa dibayar per 6 bulan.

Kalau mencari rumah murah, luas dan lebar, silakan jalan-jalan ke area exit 8 atau exit 9. Harga masih miring, bangunan masih baru. Syukur2 bisa menemukan villa beberapa tingkat yang bisa dishare bersama beberapa keluarga.

Empat bulan kedua dan Alat perang dari Indonesia

Empat bulan berikutnya kami exit, pulang ke Indonesia berhubung suami mencari pekerjaan yang baru. Alhamdulillah masih jodoh tinggal di Riyadh sepertinya, suami dapat pekerjaan baru dan kami kembali lagi ke Riyadh.

Belajar dari empat bulan pertama tinggal di Riyadh, maka ada beberapa hal yang saya persiapkan betul-betul sampai waktunya kembali ke ibu kota Saudi Arabia tadi.

“Alat perang dapur”

Di Riyadh ini saya tidak menemukan magic com seperti di Indonesia. Yakni alat pemasak nasi yang bisa sekaligus menghangatkan. Lazimnya di sini rice cooker ya hanya memasak saja. Sebagai tukang masak di rumah, kalau memasak nasi model ini pasti banyak nasi yang terbuang. Ya nggak sih? Sebelum berangkat ke Saudi kali kedua, saya bawa rice cooker kecil dari negri sendiri.

Saya dan suami penggemar masakan Indonesia yang podas podas.. Apalagi masakan padang. Yang sama ngacuuung!!! 🙂 Kali ini saya bawa cabe giling merah, asam kandis, ketumbar indonesia, pala bubuk, kencur bubuk dll yang pastinya susah nemu disini. Juga membawa asam potong, teri medan, ikan asin, terasi.. jadi bau deh ya koper.. demi makan enaaak.

Buat yang suka bikin kue, boleh juga bawa cetakan yang kira-kira sangat tradisional susah menemukan di negri orang. Seperti cetakan bolu kukus, cetakan cendol, cetakan lontong, cetakan roti jala, dll.

“Pakaian anak-anak”

Mencari pakaian anak – anak di negri ini paling mudah ke mall. Outlet seperti mothercare, HnM, RedTag, dll banyak tersebar di mall besar ataupun di hypermarket. Saat “sale” adalah saat paling tepat untuk memborong. Maklumlah kalau sepotong baju anak-anak harga normal ber price tag rata-rata mulai dari 80 riyal, kalau saat sale bisa setengah harga. Jangan di kalkulasikan dengan kurs rupiah ya. Pasti jatuhnya muaahaaal.

Riyadh mempunyai 2 musim. Musim panas mulai sekitar maret sampai september dan musim dingin sekitar oktober sampai februari. Saat panas, suhu bisa mencapai 48 derajat celcius. Saat dingin bisa mencapai 1 derajat celcius. Jadi ibu-ibu harus menyiapkan baju dua musim buat si anak. Paling bete kalau tahun depan baju 2 musim tadi ga muat lagi karena si anak sudah besar.

Cara hemat adalah, hunting baju musim dingin di saat musim panas atau saat musim dingin akan berakhir. Begitu pula sebaliknya. Kenapa? Karena saat tidak di musimnya, barang-barang tersebut dijual dengan harga murah. Bahkan diskon!

Atau cara hemat kedua ala saya, ketika punya kesempatan pulang ke tanah air setahun sekali, stok baju anak-anak untuk usia kira2 sampai 1 tahun kedepan.


Nikmat-nikmat | Alhamdulillah wa Syukurillah

Saat kembali lagi ke riyadh, kami menempati rumah yang ber-halaman, disini orang biasa menyebutnya villa. Harganya mulai 26000 sar. Letaknya di daerah Um Al Hamam. Dekat sekali dengan Sekolah Indonesia Riyadh (SIR). Dekat juga dengan baqolah Indonesia bernama Toko Cianjur dan Toko Monash. Dekat dengan compound Kedutaan berbagai negara yang sering disebut “Hay Safarat”.

Salah satu hal ternikmat tinggal di negri ini adalah bisa mengunjungi haromain kapan saja. Masha Alloh.. tidak pernah terbesit atau bermimpi bisa tinggal di negri ini. Bisa ke haromain sambil nyetir mobil sendiri, pilih-pilih hotel sendiri sesuai kemampuan dompet, dan bahkan pilih waktu kapan haromain kosong! Tidak hanya umroh, jika Alloh mengizinkan, kita bisa juga ikut ibadah haji dari negri ini. Tabarokalloh..

Nikmat lain tinggal di negri ini adalah bisa ibadah sholat tepat waktu. Pemimpin di negri ini mewajibkan seluruh instansi tutup istirahat ketika waktu sholat tiba. Kecuali bandara, rumah sakit, dan kepolisian CMIIW. Jadi kalau belanja, pilihlah waktu setelah sholat 5 waktu. Kalau tidak, Anda tunggu lama sampai toko itu buka atau malah disuruh tunggu di dalam toko tidak boleh keluar sampai selesai waktu sholat.

Nikmat lain tinggal di riyadh adalah jalan-jalan yang lebar, highway tidak berbayar, bensin murah meriah, dan makanan kelas satu yang serba halal.

So, siapa yang mau kesini?

from Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia