Mereka Yang Gugur

Kira kira dua setengah minggu aku sempat happy dengan berita kehamilan.

Lalu, di hari arafah, sehari sebelum aidil adha. Ba’da zuhur, darah keluar bagaikan datangnya haid. Sore di hari yang sama langsung ke dokter di rs al hamma*i riyadh. Dokter menyarankan untuk usg saat itu juga.

Dan hasil usg menyatakan bahwa ‘no baby seen in the uterus’.

Ada rasa kecewa dan sedih. Lalu dokter menyarankan untuk test darah. Memastikan apakah saya benar2 hamil.

Subuh, di hari aidil adha, saat suami bersiap2 sholat id, ada rasa keram yang dahsyat dari dalam rahimku. Bak haid hari pertama namun lebih dahsyat. Kira-kira jam 10 siang, keluarlah dia. Ibarat bola kecil berupa segumpal darah, sudah memiliki bentuk bakal manusia dengan plasentanya. Ukurannya kira2 selingkar jempol dan telunjuk.

Qadarulloh.. mungkin ini lebih baik.. mungkin dia tidak bisa bertahan di dalam rahimku.

Besoknya, kami kembali ke rumah sakit. Mengunjungi dokter, untuk laporan miscarriage sekalian memastikan apakah ini abortus komplit yang alami.

Bolak balik test darah dan usg

Dua hari sebelumnya hasil test darah membuktikan bahwa saya memang hamil. Lalu setelah pendarahan itu, keguguran. Dokter menyarankan lagi untuk usg, dan test darah lagi. Seharusnya hasil test darah menunjukkan hormon hcg negatif pasca keguguran aka sudah tidak ada hormon kehamilan.

Usg pasca miscarriage menunjukkan di rahim saya tertinggal sac. Browsing miscarriage di mayo clinic, sac yang tertinggal memang salah satu tanda dari miscarriage.

Tinggal menunggu test darah. Beraharap miscarriage ini menjadi abortus komplit. Tanpa harus kuret atau tindakan aneh lainnya.

Dua hari pasca keguguran. Saya berkunjung lagi ke rumah sakit. Minta dibacakan hasil test darah terakhir. Lalu dokter terheran-heran.

Your hcg still positive. I want to see your ultrasound once again to make sure.

Tidak hasil yang berbeda dengan ultrasound sebelumnya. Dan dokter sudah memvonis etopic pregnancy.

Probably you have twin. One already came out at home one in the tube. Please come to ER anything happened. Not only sit at home.

Kena marah deh gue. Katanya kenapa pas hari keguguran ga langsung ke ER.

Pulang ke rumah. Buka lagi artikel mayo clinic. Baca tentang etopic pregnancy.

Sakit perut hebat

Sore di hari jumat. Kiranya saat itu masuk waktu maghrib. Perutku kesakitan bagai dicubit dari dalam. Rasa sakit itu tidak kunjung berhenti. Bahkan aku sampai tidak bertenaga untuk berdiri n berjalan dari kamar ke kamar mandi. Kaki dan tangan berubah warna putih dan dingin. Darah yang keluar lebih banyak dari hari kemarinnya.

Sekitar jam 9 malam, kami putuskan untuk mengunjungi rumah sakit lagi. Langsung ke emergency.

Di emergency, sudah tidak kuat lagi berdiri. Test darah diambil dan disuruh usg transvaginal LAGI.

Sebelum usg transvaginal, seperti biasa ‘pass urine’ .
Please, i dont have power to stand up. Can i do it 1 hour later?”
“No, madam. You should do it now. Doctor want to see it now”
Akhirnya saya berpindah pindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya dengan tempat tidur yang di dorong dorong.

Mereka memindahkan saya ke ruangan emergency khusus yang hanya ada 1 pasien saja. Kenapa?
“We have to prepare operation for you. It’s etopic pregnancy. You look so pale. We should do it faster. It dangerous for you”
Haaah.. kok tiba2 main operasi aja.. ga ada cara lain pake obat atau apa gitu..???

“There some probability if your tube is broken, we will remove one of your tube. You still able to pregnant with one tube”
“Please not to remove it. Just take the baby please”
“We wil see. Anything best we will do it for you madam”

Sungguh, saat itu tubuh ini sudah tidak berdaya. Infus sudah dipasang. Operasi akan dilakukan dalam hitungan menit. Saat itu saya langsung mengingat kematian. Dan tiada lagi hal yang bisa diubah, diperbaiki.. hanya bisa berdoa, istighfar dan berdzikir kepada Nya.

Lalu teringat putri kecilku di rumah. Ahh.. makin sayang dan rindu rasanya..

Membuka luka lama

Tempat tidur saya saat itu di dorong dorong sampai ke kamar operasi. Jadi ingat saat melahirkan nabila dulu. Saat itu operasi sectio dengan setengah sadar.

Dokter menanyakan riwayat alergi obat, dan pengalaman operasi sebelumnya. Sebelumnya beliau mengajakku berbicara dengan bahasa tagalog.

“English please. I’m not phillipino”
“Ohh.. malayzi malayzi”

Ah.. sampai mau ke meja operasi ada aja yang ngajakin ngomong ginian..

Aku pun pindah ke meja operasi. Lampu bulat 4 mata berwarna hijau sudah nyala di depan tubuhku. Secara sadar, obat bius itu dimasukkan melalui jarum infus di tangan dan aku pun tertidur.

Ketika terbangun, aku sudah tidak di hadapan meja operasi. Mereka sudah siap membawaku ke kamar rawat inap.

“Madam, your operation finish. Wake up madam. Wake up.”

Hah.. sudah selesai.. aku langsung bertemu suamiku di ruang rawat inap. Alhamdulillah.. umurku masih panjang.. sambil terus berzikir mengingat Nya.

Siangnya dokter memberitahu tentang operasi semalam.

“We didnt take your tube. We just remove the baby.

Dokter juga menjelaskan, mereka membuka luka operasi sectio yang lama. Tidak mungkin kami membuka luka dan jaitan di tempat yang baru katanya.

image

Lega rasanya..
Alloh masih menyayangi hambanya ini.
Semoga kejadian ini membuatku lebih sering mengingat Nya..

Semoga Alloh lekas memberi ganti yang lebih baik..

from Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia